Senin, 28 Desember 2015

Pendakian ke Gunung Panderman



Hallo bloggers semua, maaf ya baru nongol lagi. soalnya kemarin-kemarin lagi sibuk sama tugas kuliah. hehehe...... Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya mengenai awal mula menyukai hobi hiking. Seperti yang kalian baca di judul, kali ini saya akan bahas tentang Pendakian saya ke Gunung Panderman. Langsung saja yaahhh...

Gunung Panderman adalah sebuah gunung yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Kota ini bisa dikatakan terletak di kaki gunung panderman, yang memungkinkan para pendaki untuk dengan mudahnya mengakses rute ke gunung ini melalui Kota Batu. Gunung ini merupakan gunung yang cocok bagi para pemula pendaki karena puncaknya yang tidak terlalu tinggi (2.000 mdpl) dan medan nya yang tidak terlalu menanjak sehingga cukup banyak pengunjung terutama yang berasal atau bertempat tinggal di kota malang untuk mendaki gunung tersebut.

Nama "Panderman" sendiri berasal dari nama seorang Belanda yang hidup pada penjajahan bernama  "Van Der Man", karena kekagumannya terhadap gunung ini maka orang-orang menamakan gunung ini dengan sebutan yang mirip dengan nama orang Belanda tersebut.

Malam itu adalah malam yang lembab karena Kota Malang diguyur hujan rintik-rintik, membuat jalanan yang kering menjadi kembali basah walau tidak menimbulkan genangan. Aku yang saat itu bersama teman kost ku hendak mendaki gunung Panderman pada malam itu untuk melihat pemandangan matahari terbit dari puncak Panderman. Tetapi karena cuaca hujan, kami menunggu hujan itu berhenti dulu baru kami mulai mendaki karena sangat tidak memungkinkan untuk pendakian. Saat kami pergi sekitar jam 00.00 hujan belum turun namun ketika dalam perjalanan ke sana barulah turun hujan. 

Saat itu hujan berhenti sekitar pukul 01.45. Perjalanan pertama kami mulai dari Dusun Toyomerto di Desa Pesanggarahan yang juga menjadi wilayah administratif lokasi Gunung Panderman. jalan menuju Dusun ini sangat indah di siang hari dan malam hari .Namun karena mngejar terbitnya matahri, kami berdua mengabaikan pemandangan itu dan melanjutkan berkendara hingga sampai pada tempat penitipan sepeda motor di pintu masuk desa, pembayaran nya sebesar Rp.5.000 ada di akhir setelah kita pulang nanti. Setelah menitipkan kendaraan, kami melanjutkan perjalanan menanjak menuju loket masuk pendakian gunung panderman. perlu diketahui untuk setiap orang di kenai biaya sebesar Rp.7.000. 

waktu saat itu menunjukan pukul 02.10 dan saat itu kami berdua mulai mendaki gunung tersebut. Jalan setapak dan sangat gelap membuat kami khawatir akan sampai di tujuan kami. Namun selama di perjalanan kami berdoa agar di beri petunjuk supaya sampai di tujuan dengan selamat dan kembali juga dengan selamat. Saat malam itu terdengar suara serangga dan burung sehingga membuat kami seolah olah menyatu dengan alam. Untung nya hp yang saya pakai bisa digunakan untuk penerangan jalan setapak tersebut dan kami bersyukur karena bulan juga menerangi jalan kami. Jalanan tentu sangat licin karena lembab dan sisa hujan yang mengguyur Kota Batu tadi. Ketika mendaki, kami menemukan banyak sekali percabangan jalan yang sebenarnya mengarah pada 1 jalan dan tujuan yang sama, akan tetapi memiliki tingkat kesulitan medan yang berbedan dan tidak terduga. Suasana maalm itu juga membuat kami kesulitan menentukan jalan mana yang harus dilalui agar tidak tersesat di tengah hutan tengah malam. Berkat doa dan kata hati kami memilih satu dari berbagai cabang yang kami temui. 

Untungnya juga ada akar pohon dan sulur tanaman yang bisa membantu kami melewati medan yang menanjak yang sulit didaki. Saat mendaki beberapa kali kami terpeleset namun berkat kerjakeras dan tujuan yang sama kami saling membantu dan tentunya hal tersebut sudah biasa bagi para pendaki sehingga menghadapi situasi ini bukan masalah bagi kami berdua. Setelah sekitar 2 jam  kami sampai pada titik pertama "Latar Ombo", sebuah tanah datar yang berada di ketinggian 1600 mdpl. Seharusnya menuju Latar Ombo hanya 1 jam tapi karena medan yang sulit dan gelap membuat kami banyak beristirahat hanya dengan duduk beberapa menit saja. 

Ketika sampai di Latar Ombo, kami beristirahat sebentar sekitar 10 menit untuk minum dan makan bekal yang kami bawa. Setelah itu kami melanjutkan pendakian kami lagi. namun menurutku medan selanjutnya lebih sedikit ringan dibanding rute awal ketika naik ke Latar Ombo. Hal yang sama terus terjadi yaitu menemukan banyak percabangan jalan, dan kami hanya berdoa agar di beri jalan yang benar. Dan setelah mendaki sekitar 1 jam kami sampai ke kawasan "Watu Gede"yang menurut sumber berada pada ketinggian 1730 mdpl. Disini kita bisa melihat pemandangan Kota Batu dengan jelas dan beristirahat sejenak. Pohon Pinus yang tumbuh disekitar lokasi menambah keindahan pemandangan Watu Gede. Disaat itu cuaca yang dingin tak lagi kami rasa karena kelelahan yang menerpa kami.

Semakin keatas rute pendakian semakin bercabang dan setidaknya terdapat 2 jalur sempit yang dikelilingi jurang. Kembali akar pohon menjadi bantuan utama bagi kami untuk melewati medan tersebut. Pada saat itu kami terhenti di sekitar leher Gunung Panderman karena kami sudah sangat keletihan. Kami tidak begitu kecewa karena di sela tempat istirahat kami tepatnya dileher Panderman kami mendapatkan Sunrise. Pemandangan di situ juga tidak kalah indah dengan puncak panderman. Perlu diketahui bahwa puncak gunung itu namanya "Puncak Basundara" yang terletak di 2045 mdpl. Dari tempat itu kami melihat matahari terbit menyinari Kota Batu dan Kota Malang. di depan kami juga kami melihat dari kejauhan Gunung Bromo yang masih aktif. Di situpula kami berdua sempat mengabadikan foto dengan latar belakang Gunung Bromo. tempat itu kami bersitirahat sekitar 2 jam dan memakan bekal yang kami bawa serta minum karena kami sangat keletihan sambil bercerita dan bersanda gurau. Ketika mendaki kami tidak terlalu merasa dingin, namun ketika mencapai leher panderman ini kami sangat merasa kedinginan walaupun sudah memakai jaket tebal dan sarung tangan serta penutup kepala. 


sekitar jam 07.00, karena sudah tidak tahan dengan dingin nya cuaca di sekitar situ maka kami segera turun gunung setelah puas menikmati pemandangan Kota Batu dan Kota Malang. Awalnya kami berpikir turun gunung itu akan terasa lebih mudah di banding naik nya, namun dugaan kami salah. malah turun gunung itu yang lebih susah dan buat kami harus bersusah payah menuruni gunungnya karena matahari telah terbit dan jalan semakin licin karena embun. awalnya kami mencoba untuk menuruni biasa dengan berjalan namun kami berkali kali terpeleset, untung nya ada akar pohon yang menjadi penahan nya. Karena sering terpeleset akhirnya kami mencoba menuruni gunung itu dengan jalan jongkok dan memanfaatkan tenaga gravitasi serta licin nya tanah untuk berseluncur menuruni rute.


Lain halnya pada saat naik, turun gunung akan terasa lebih cepat. Sehingga hanya dalam waktu 30 menit kami sudah sampai di Watu Gede. Ketika hendak turun kami sempat mengabadikan foto juga di watu gede karena matahari sudah terang. Setelah berfoto kami melanjutkan turun lagi hingga mencapai Latar Ombo. Di situ saya sempat melihat indahnya kota malang pada pagi hari ketika matahari menyinarinya. Kemudian kami melanjutkan lagi menuruni gunung. Perjalanan turun dari Latar Ombo adalah yang terindah bagi kami, karena saat itu matahari benar-benar bersinar terang dan menyinari setiap titik yang indah yang ada di sekitar. Saat pagi hari barulah kami merasa kaget karena jalan sulit yang kami lewati saat dini hari ternyata curam. Untungnya saat pulang kami melewati rute percabangan yang mudah dilalui dengan melewati alang-alang.


Kami pun melanjutkan turun hingga kaki gunung dan jalanan paving mulai terlihat. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat  perkebunan kol, sawi, anggur, jagung, wortel, dll. Ketika menurunin gunung dan sampai pada jalanan paving kami melihat salah seorang berjualan "Cilok" dan kami membelinya sebagai ngemil mengisi perut kami yang lapar karena bekal makan kami sudah habis hanya tersisa minum. Di kiri kanan jalan juga terdapat sumber air, kami manfaatkan untuk mencuci muka dan tangan kami yang terkena noda tanah saat mendaki dan airnya sangat dingin.

Puncak Panderman 2045 mdpl

Kami berdua yang sudah kelelahan akhirnya tiba di desa Pesanggrahan dan beristirahat sejenak melepas keletihan kami. Setelah itu kami berjalan menuju tempat dimana kami menitipkan sepeda motor kami, setelah membayar pas dengan biaya penitipan. Kemudian kami Bergegas pulang menuju kost kami. Mendaki Panderman adalah hal pertama yang ku alami ketika mendaki gunung. Setelah mendaki Panderman, ternyata saya baru tahu bahwa alam itu sangat indah dan membuat saya tertarik lagi untuk menaiki gunung-gunung lain yang ada di tempat saya tinggal. Dan mudah-mudahan doa saya ini bisa terkabul. Amin. Sekian dulu pengalaman saya, Wassalamualaikum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar